Goes to Takengon

11:03:00 AM Dimas A. R. Kambuna 7 Comments

Hehe… Minggu pertama di Aceh, eh… alhamdulillah dah berkesempatan jalan- jalan ke Takengon, diajak sama Om Bowo temen Bapak, hari Sabtu, tanggal 4 Februari 2012. Waow… Yah, penat juga sih sebenarnya, badan nih… Tapi ya mumpung di Aceh, mumpung juga ada yang ngajak. Hehehe…

Jam 6 pagi saya dan Fahmi dah siap di tugu depan Tambun Tunong, Krueng Geukueh, Aceh Utara. Masih gelap suasana di Aceh jam segitu tu.. Kayak jam 5 lah, kalo di Jawa. Ga lama nunggu, Om Bowo dateng pake mobil Kijang LGXnya yang suara maupun nyetirnya masih halus. Ternyata, Om Bowo juga ngajak Bang Muslim, tetangga sebelah rumah Tante di Tambun. Kami pun berangkat sambil masih terkantuk- kantuk. Hehe 

Ga lama, kami sampai di Bireun, sekitar 1 jam kemudian, jam 7 (lebih kurang 40 Km dari Krueng Geukueh). Om Bowo beli makanan ringan dulu, jajan pasar istilahnya kalo di Jawa, beli timpan (sejenis makanan dari Ubi isi Kelapa Manis; dah lama ga makan ini, enak). Ngisi perut lagi deh, n siap untuk perjalanan berkelok-kelok menuju Takengon (katanya sih gitu, aslinya gimana, ya??). Lets check it out… 

Dari Bireun kami harus memotong ke kiri melewati satu Kabupaten, yakni Kab. Bener Meriah, sebelum sampai di ibukota Kab. Aceh tengah yaitu Takengon. Ga lama pun kami sampai di daerah yang sedang dalam perbaikan, pelebaran, dan pembangunan jalan baru di daerah Cot Panglima. Kami sampai di situ pukul 7.45 WIB. Waktu kami jalan, disitu masih diberlakukan sistem buka tutup jalan, sehingga kami harus memburu waktu. Jam buka tutup diberlakukan dengan ketentuan jam 08.00 WIB, jalur mobil dari bawah (Bireun menuju Takengon) akan ditutup dan dibuka lagi pukul 12.00 WIB. Setelah itu, berganti arah yang sebaliknya. Pukul 5 sore baru jalur kembali dibuka 2 arah. Maka dari itu, kami memburu waktu agar tidak terjebak di tengah perjalanan menuju Takengon. Di daerah Cot Panglima tu kami berhenti sebentar, untuk melihat pembangunan proyek dan pemandangan yang lumayan indah di bawah. Foto- foto sebentar.

Pembangunan Jalan di Cot Panglima Aceh
Pembangunan Jalan di Cot Panglima
Lanjut jalan, berliku-liku kali rupanya, mana badan juga lagi agak ngedrop kondisinya, agak mual juga. Tapi ga sampe muntah laaa… Traveller sejati kok. Hahaha… Ada tikungan yang tajem banget berbentuk letter S yang sangat ekstrim lekukannya, jalannya pun menanjak. Bahaya kali kalo kendaraan macet di tengah jalan, terutama kendaraan besar kaya truk.
Tikungan Enang - Enang Aceh
Tikungan Enang - Enang
Sekitar jam 10.15 WIB kami sampai di Takengon, kami mampir dulu di salah satu rumah saudara jauh Om Bowo. Ngopi- ngopi dulu disana, ma makan kue bawang. Pas banget buat nglepas lelah n bikin mata melek lagi. Kopi Takengon kan terkenal jempolan, kopi daerah Gayo. Oiya, Takengon tu julukannya Tanah Gayo, yang terkenal dengan kopi gayo-nya.  Kami ngobrol- ngobrol sebentar, untuk selanjutnya sekitar pukul 11.15, kami berangkat menuju danau memakai mobil untuk mengitari danau. Danaunya terlihat begitu luas. Lama untuk mendapat setengah putaran danau. Banyak yang bilang ini Toba-nya Aceh dan saya rasa ucapan itu benar, walau ukuran danau ini tidak sebesar Danau Toba tentunya. Tidak diketahui bagaimana danau ini terbentuk. Sebagai perbandingan, jika mengitari Danau Toba kita butuh waktu 2-3 hari, maka untuk memutari danau ini hanya memakan waktu sekitar satu jam saja (hanya memutar, tidak berhenti untuk foto- foto). Air di danau air tawar ini sangat jernih, terlihat kebiruan. Berikut saya tampilkan beberapa foto dari berbagai sudut danau ini, semoga bisa dinikmati.

Pemandangan sekitar Danau Air Tawar Takengon Aceh
Pemandangan sekitar Danau Air Tawar
With Friends
Foto itu diambil ketika kami mampir ke salah satu rekan Om Bowo. Om Bowo ngobrol, kita foto- foto, deh. Hehehe… Membayar biaya parkir pun tidak, disini, karena lingkungan masih sepi. Kita hanya perlu mengenal dengan baik orangnya (SKSD juga boleh).

Kami pun sempat mampir ke rekan Om Bowo juga, yang berbisnis penggilingan kulit kopi. Mesinnya masih sederhana, dengan suara yang sangat keras. Saya lupa biaya penggilingannya, tidak mahal, per kilogram-nya. Namun sayang, kulit kopi yang sudah terkupas, tampaknya masih belum banyak dimanfaatkan, padahal jika dimanfaatkan, sepertinya potensinya sangat besar, mengingat Takengon sebagai salah satu sentra kopi di daerah Aceh.
Kopi, Pengupas Kopi, Limbah Kulit Kopi Takengon Aceh
Kopi, Pengupas Kopi, Limbah Kulit Kopi
Letak Kota Takengon dan Danau Air Tawar berada di tengah-tengah hamparan bukit-bukit sehingga pemandangan sekitarnya pun juga tak kalah indah. Apalagi jika cuaca cerah, Takengon jadi sejuk, tidak begitu dingin.
Pemandangan Sekitar Takengon Aceh
Pemandangan Sekitar Takengon
Sekembali dari Danau Air Tawar, kami kembali lagi ke rumah saudara jauh Om Bowo untuk makan siang (gratisan, haha), dan makanannya pun cukup membangkitkan selera. Setelah itu, kami sholat, dan capcus, kembali mengunjungi salah satu rumah saudara Om Bowo, di daerah bawahnya Takengon, lupa apa namanya. Ngeteh bentar, ngobrol- ngobrol. Dan ternyata, mereka adalah orang Jawa yang sudah sangat lama tinggal di Aceh, bahkan belum pernah kembali lagi ke Jawa, karena tidak lagi mengetahui dimana keluarga mereka. Mereka masih bisa memakai bahasa Jawa, walaupun sudah sulit menggunakan bahasa Kromo Inggil. Mereka sudah tercampur dengan bahasa Aceh. Tapi, kebanyakan bahasa sehari- hari yang digunakan adalah bahasa Jawa, bahkan, istri mereka yang ada orang Acehnya pun bisa berbahasa Jawa. Cukup menarik. :)
 
Sekitar pukul 4 sore, kami pamit darisana, menuju ke pemandian air panas yang mengandung belerang (aduh, lupa juga nama daerahnya). Pokoknya, satu jalur sama perjalanan pergi ke Takengon/ pulang dari Takengon. Ada tiga pemandian, yang pertama langsung dari mata air (panas sekali airnya dan bau belerang), ada yang di tingkat 2 (sedang, tapi tetap panas), dan yang dikelola oleh suatu seseorang (berbentuk kolam, dan ga terlalu panas, kami memilih yang ini). Ga mahal, cuma Rp 5.000,00 per orang. Pemandian laki- laki dan perempuan dipisah (yah, sayang kali) hahaha… Dan hal ini diperparah dengan mayoritas, Bapak- Bapak/ pemuda yang mandi, hanya memakai CD (celana dalam). Alamak! Kita yang biasa di kolam renang/ pemandian di Jawa minimal pakai celana pendek, jadi malu sendiri. :S . Satu lagi, sayangnya ruang bilasnya ga dirawat, jelek, bau pesing, kuncinya juga rusak. Ga begitu memadai lah (kalo menurut kami). Ada yang sabunan, gosok gigi, keramas, gosok tangan-kaki mbersihin penyakit kulit, macem- macem lah. Hahaha..
 
Pulang dari sana, kami sholat, langsung cap cus deh, pulang ke rumah. Kami sampai di rumah sekitar pukul 9 malam. Kayak gitu deh, ceritaku. Apa ceritamu?? Hahaha…
 
Nantikan lagi ya, masih perjalanan saya di Aceh. Untuk selanjutnya, ada cerita dari jalan- jalan di Banda Aceh. Merci. Ciaaoooo…..

You Might Also Like

7 comments:

  1. Wah serunya bisa langsung intip kebun kopi di Aceh, cool

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi perjalanan kesananya, lebih seruuu..
      Tapi kopi Aceh emang mantap deh..

      Delete
  2. aajjiiiibbbbb viewnya mas mantab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaappp.. Ajib banget tanah Takengon itu Mas :D

      Delete
  3. sy jalan2 ke takengon 3 hari 2 malam berasa blm ckup... masih pengen lagi k takengon :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu Mas, ngangenin emang Takengon, plus indah banget pemandangannya..

      Delete

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)