Overview of the Aceh and The Uniqueness (Seputar Aceh dan Keunikannya)

2:51:00 PM Dimas A. R. Kambuna 3 Comments

Apa kesan yang saya dapatkan selama di Aceh,setelah beberapa hari di Aceh??? Hmmm… ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dan tertegun melihat kondisi di Aceh.

Yang pertama, ceweknya (to the point banget, yak?? Hahaha… ). Bisa dibilang jika keluar rumah, 98,9% tu berjilbab semua. Tertutup, walopun tetep aja beberapa ada yang bajunya ketat banget, sama kayak di kota- kota besar. Tapi inilah yang sangat membedakan dengan di kota- kota lain, di Pulau Jawa, khususnya. Paling ga, dengan mereka berpakaian tertutup kayak gitu, dah mbuat hati tentram, adem, dah ga “mengundang”. Kata salah satu karyawan di tempat Kerja Praktek, dengan pakai baju kayak gitu, mereka lebih terjaga, dan semakin bikin penasaran misal mau mencari istri, ga kayak di kota- kota besar yang “onderdil” dan “aset”nya seakan- akan dipamerkan dan “ditawarkan” buat semua orang. Walaupun tetap aja disini ada kasus perkosaan, perzinahan, dsb. Tapi tetap aja menurut saya, pakaian tertutup mereka akan mengurangi, BANYAK mengurangi kasus pelanggaran antara laki- laki dan perempuan.

Kasus pelanggaran antara laki- laki dan perempuan yang tak banyak juga terbantu oleh adanya pengawas, semacam polisi, polisi syariat, namanya, yang merazia warga, agar tidak melakukan kemaksiatan. Nama organisasinya WH (Walidatul Hursi entah apa, ga tau juga artinya). Walaupun tetep aja ada orang pacaran, tapi kembali, tetep aja ga banyak, ga terang- terangan, kaya di Jogja misalnya. Apalagi di tempat wisata, kaya di Parangtritis lah, Kaliurang lah, ato di tempat- tempat umum pun mereka kebanyakan udah ga malu sama orang sekitar. Kalo di Aceh sini, kalo misal cewek lagi berduaan ama cowok, misal naek motor, mereka kelihatan malu- malu, pas diliatin orang.  Ada juga undang- undang khalwat, atau  Qanun (ga tau juga artinya, tapi ya intinya menjaga kemaksiatan, terutama antara cowok- cewek). Umumnya, pelanggaran berat seperti zina, dihukum cambuk di depan umum, terutama di Banda Aceh. Suasana Islami sangat kental di Aceh, walaupun yah..yang namanya dunia, dimana saja tetap ada kemaksiatan di beberapa tempat. Tapi setidaknya Aceh tu sudah menunjukkan keistimewaannya, tanpa perlu mereka memisahkan diri dari Indonesia. Bisa dibilang, Aceh masih banyak/ kental akan budaya ketimuran.

Masih tentang cewek, ga ada hot pants disini, ga ada tanktop. Mata cowok cenderung “bersih”, kekurangan vitamin A. hahaha… Namanya hot pants, tapi malah bikin orang kedinginan. Mata cowok lebih banyak terhibur sama paras cewek- cewek Aceh, yang memiliki aura khas. Wajah perpaduan, melayu-indonesia-arab/timur tengah (menurut saya). Cakep- cakep. Cantik. Bikin meleleh, hatinya goyang- goyang! Wkwkwwwk… Aw aw aw. Direkomendasikan kalo yang mau nyari jodoh disini, asal mau aja tinggal jauh dari Jawa. It’s oke. Keluarga kan bisa dikunjungin, naek pesawat, kapal, mobil, bis. Dah gampang. Atau kan bisa juga, ceweknya diajak ke Jawa.

Mau liat foto cewek Aceh?? Liat aja ndiri deh ya, disini… Pergi ndiri ke Aceh.

Dah ah, mbahas ceweknya. Sekarang mbahas masalah tanah yang luar biasa murahnya di Aceh sini. Masak, lahan 1 Hektar harganya cuma 8 Juta! Kebayang ga tuh, kalo di Jawa tanah 1 Hektar berapa harganya. Harga- harga tu terutama di daerah atas, kaya di Takengon, Aceh Tengah. Kan kalo buat invest boleh banget tuh, apalagi yang domisili di Aceh dan sekitarnya, dah mau menetap di Aceh. Disini pun, Lhokseumawe dan daerah- daerah lain, masih banyak lahan- lahan kosong.  Pembangunan di Aceh termasuknya lambat. Tapi itulah yang membuat Aceh tetap “terjaga” dari pengaruh dunia luar, modernisasi, layaknya kota- kota lain. Mungkin kalau di Jawa kayak Jogja, yang masih menetapkan batas maksimum tinggi sebuah gedung. Ga ada satu pun gedung pencakar langit di Jogja, kayak di Jakarta.

Lambatnya pembangunan di Aceh pun terlihat dari rel kereta api yang terbengkalai di Aceh, ga kepakai. Perasaan dari dulu tahun 1999 pas ninggalin Aceh, udah ada dan belum kepake, sampe sekarang pun gitu. Cuma ada beberapa bagian aja yang masih baru. Ada yang bilang tu cuma buat ngehabisin dana bantuan dari luar negeri, daripada uangnya ga kepake, yang penting dipasang. Ini juga dipicu oleh sikap “eksklusif” yang dipertahankan oleh masyarakat Aceh. Aqua pun ga ada disini, mereka hanya mau air minum yang diproduksi daerah sendiri, dan pabrik sendiri. Makanan pun, saya lihat hanya produk “khas Bandung” yang bisa bersanding di antara kuliner Aceh, kayak Siomay Bandung dan roti bakar Bandung.

Rel Kereta Terbengkalai di Aceh
Rel Kereta Terbengkalai
Lanjut masalah transportasi di Aceh. Tingkat kesadaran masyarakat Aceh tuh masih rendah banget. Jalan sih dah bagus termasuknya, dah lebar, tapi lampu merah banyak yang ga berlaku disini. Giliran berhenti pas ada lampu merah, eh…malah diklakson. Trus cara mengemudi juga masih ugal- ugalan, seenaknya ndiri. Helm pun gitu, jarang yang dipake, kecuali mau masuk ke dalam perumahan yang mengharuskan memakai helm, itupun cuma orang yang nyetir. Padahal, daerah Krueng Geukueh tu jalannya termasuk jalan provinsi, jalan utama dari Medan menuju Banda Aceh, tapi tetep aja mereka jarang yang pake helm, bahkan misal mau ke  kota, ke Lhokseumawe pun ga pake. Jaraknya kan sekitar 15 Km, padahal. Ga sadar ama keselamatan sendiri, di tengah bahaya yang lebih besar dari pengendara lain yang suka mengemudi seenaknya, belok seenaknya, ga pake lampu sen. Tapi, di Aceh ada kendaraan (angkot) yang lucu, namanya labi- labi. Becaknya pun becak motor semua, ga ada yang digenjot.

Labi - Labi Angkutan Umum Aceh
Labi - Labi
Becak Motor Aceh
Becak Motor
Kurangnya kesadaran rakyat Aceh pun dapat dilihat dari kurangnya budaya antri di kalangan masyarakat. Bahkan waktu itu saya heran, ibu- obu yang tinggal di komplek (istri karyawan yang bisa dibilang dah tau aturan), eh… nerobos aja pas di kasir supermarket. Dan itu dilakukan oleh lebih dari 1 ibu- ibu. Di pom bensin pun sama, kayak gitu juga.

Konflik yang berkepanjangan pun juga membuat Aceh tidak kondusif dan Aceh jadi sepi, terutama daerah wisata Banyak yang ga terurus. Padahal potensinya banyak banget. Pantai, danau (Takengon), tempat selam (di Sabang), monumen Tsunami, dsb. Selain itu, tadi menurut info, khususnya di kota wisata yang besar kayak Sabang, tempat maksiatnya tuh tetep ada, tapi ditempatkan terpisah dari lingkungan masyarakat. Khususnya, tempat- tempat itu diperuntukkan buat turis dari manca. Orang dalam pun ada. Tapi kan berarti gampang dikenalin, kalo masuk ke “daerah” itu, berarti mau “gitu”. Coba dibuka secara umum, pasti tempat- tempat wisata di Aceh bakalan rame banget. But, once again, that's what makes Aceh different, special.
Sabang
Sabang
Monumen Tsunami
Monumen Tsunami
Aceh tetap ada di sejarah hidup saya, dan keluarga. Aceh tetep spesial. Sekian dulu, ya. Semoga bermanfaat. Caaooooo… ^.^

You Might Also Like

3 comments:

  1. buka2 blog ini jadi ingat selama liburan ke aceh tahun 2010 ... salam kenal mas , btw, wh tuh wilayatul hisbah ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Liburan kemana aja Mba?

      Ooh itu tho, kepanjangannya Hehe
      Saya terakhir kesana 2012, sebelumnya tinggal disana sampe 2000an, makanya ga ngikutin perkembangan WH dsb. Hehe.. Cm denger istilah2 itu pas KP disana.

      Salam kenal juga Mba :)

      Delete
    2. Maaf Mas, kalo saya salah. Saya salah ngelihat blog yg Mas follow, saya kira itu blog pribadinya Mas. Hehe.. Maaf sekali lagi.
      Salam kenal Mas. :)

      Delete

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)