Goes to Banda Aceh (Tsunami Memory)-A Place Blessed with Natural Beauty and As A Spiritual Gateway-Day I

4:38:00 PM

Perjalanan dan petualangan di Tanah Rencong pun sudah berakhir, tanah kelahiran saya, tempat tumbuh saya. Kami berencana pulang dari Aceh pada tanggal 2 Maret 2012 karena waktu itu sudah dinanti oleh tugas di kampus. Tapi, sebulan disana meninggalkan banyak pengalaman dan perjalanan, seperti jalan- jalan ke Takengon, pengalaman di Kerja Praktek PT PIM, mengenal keunikan orang dan lingkungan Aceh yang mengalami perubahan, juga perjalanan dari Pulau Jawa ke Aceh itu sendiri. Kali ini, saya mau menceritakan perjalanan saya selama 2 hari ke Banda Aceh sebelum kami pulang ke Jawa, yaitu tanggal 25-26 Februari 2012. 

Berangkat 
Pada awalnya, kami berniat untuk naik motor dari Lhokseumawe, dengan pertimbangan di Banda Aceh nanti mudah untuk berjalan- jalan, tidak direpotkan oleh transportasi yang harus berganti- ganti. Ternyata, ada beberapa kendala lain yang membuat kami tidak jadi berangkat naik motor, dan kami pun diberi pinjaman mobil Avanza oleh salah satu kerabat. Pukul 06.15 kami berangkat dari rumah menuju Banda Aceh. Tujuan awal kami adalah Masjid Baiturrahman. Pukul 7 pagi kami sudah sampai di Bireun, jam 8 sampai di Pidie Jaya. Kami mampir sebentar di Sigli pada pukul 9, untuk membeli makanan ringan dan minuman. Dan akhirnya, kami sampai di Banda Aceh pada pukul 10.55 WIB. Apa yang kami lakukan begitu sampai di Masjid?? Nyari kamar mandi!!! Hahaha… Kamar mandinya cukup banyak, dan telah tersedia sandal, sehingga memudahkan pengunjung untuk menggunakannya. Baik menggunakan kamar mandi dan parkir, cukup membayar tarif yang masih dalam batas wajar (Rp 1.000,00-2.000,00).

Dilihat dari luar, terlihat bahwa Masjid Baiturrahman memang pantas menjadi simbol Aceh, Banda Aceh khususnya, dengan aristekturnya yang megah. Masjid ini menjadi salah satu bangunan yang selamat dari tragedi Tsunami pada tahun 2004, masih tegak, kokoh berdiri di tengah lingkungan yang porak- poranda dan penuh mayat. Banyak yang mengungsi ke Baiturrahman, dan bahkan dulu masjid ini digunakan sebagai salah satu basis pengumpulan jenazah korban Tsunami sebelum dikuburkan.

Arsitektur di bagian dalam masjid tidak terlalu istimewa. Namun, nilai historis yang terkandung di dalamnya sangat terasa, begitu juga di daerah halaman, yang telah mengalami renovasi akibat terjangan tsunami, yang selesai pada bulan Desember 2007. Hal ini dapat kita lihat pada tanda yang berada di halaman, bahwa Baiturrahman direnovasi dengan bantuan dari Kerajaan Saudi. Selain itu, terdapat sebuah tugu yang berdiri tegak.
Masjid Baiturrahman Banda Aceh
Masjid Baiturrahman
Inside mosque, menara, dan Monumen
Inside mosque, menara, dan Monumen
Monumen (museum)
Waktu sholat yang belum masuk di Aceh pada pukul 12 siang, membuat kami memutuskan untuk merapat menuju Museum Tsunami yang berada tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, berada di dekat SMA 1 Banda Aceh. Dari arah luar, desain bangunannya terlihat futuristik, dengan menganut konsep bangunan berlubang untuk membuat ruangan dalam bangunan terang, tanpa banyak memakai lampu penerangan, green concept saya rasa, dan memang hal tersebut yang dirasa. Angin dapat bebas memasuki ruangan dan cahaya cukup terang, kecuali saat kita memasuki ruangan awal, dimana terdapat nama- nama korban tsunami yang ditulis pada dinding, hingga mencapai puncak, yang bertuliskan Alloh. Mungkin hal tersebut memaknakan bahwa semua korban itu, ratusan, bahkan ribuan, telah kembali ke Rahmatulloh. Selain itu terdapat ruang slideshow tentang kondisi sesaat setelah tsunami. Dalam kedua ruangan tersebut, kita diajak merenung bagaimana dahsyatnya kuasa Ilahi.
Outside Museum Tsunami
Outside Museum
Outside Museum Tsunami2
Outside Museum Tsunami3
Nama-nama Korban Tsunami
Nama-nama Korban Tsunami
Di lantai- lantai selanjutnya terdapat berbagai macam ruang pameran, baik barang asli sisa terjangan tsunami, replika keadaan saat tsunami, foto- foto sebelum, setelah terjangan tsunami, dan apa saja renovasi yang telah dilakukan rakyat Aceh untuk bangkit kembali. Terdapat juga beberapa turis asing yang mengunjungi museum, dan uniknya , ada turis perempuan yang memakai kerudung untuk menghormati warga Aceh. Salute!! 

Di lantai bawah juga terdapat kolam yang terasa menyejukkan, beserta pelataran yang cukup luas, sehingga dapat dimanfaatkan pengunjung untuk melepas lelah setelah melihat- lihat di dalam museum. Batu- batu untuk duduk yang berada di sekitar kolam bertuliskan nama- nama negara yang turut membantu pembangunan Aceh kembali.
Replika dan Sejarah Tsunami
Replika dan Sejarah
Ruang Pameran Tsunami
Ruang Pameran
Ruang- ruang Lainnya
Kolam di Lantai Bawah Museum Tsunami
Kolam di Lantai Bawah, Sejuk, Nyaman
Makan Mi Aceh 
Perut terasa keroncongan, sehingga kami memutuskan untuk makan siang dahulu, sekitar pukul satu siang. Kami direkomendasikan untuk memakan mie Aceh di daerah Lamdingin, bernama Mie Lala. Dengan harga yang “lumayan waow”, kami memesan mie aceh daging rusa, karena saya sendiri sudah lama tidak mencobanya sejak meninggalkan Aceh. Porsinya jumbo, namun yang sedikit disayangkan adalah baunya yang masih sedikit amis, sehingga perlu ditambahkan banyak jeruk nipis.

Lampulo 
Setelah makan usai, kami sholat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lampulo, tempat sebuah kapal yang menyangkut di atas rumah warga. Hal ini menunjukkan betapa dahsyat terjangan ombak tsunami. Kapal tersebut benar- benar menyangkut di atas rumah, dengan info lengkap yang dapat kita baca di papan informasi yang ada di sekitar lokasi. Kita juga dapat memiliki buku kesaksian beberapa saksi hidup tsunami secara gratis. Dari atas bangunan, dapat kita lihat bahwa di sekitar lokasi tersebut, bangunan yang ada masih relatif baru, menandakan bahwa daerah tersebut juga banyak yang menjadi korban terjangan tsunami.
Monumen Kapal di Lampulo
Monumen Kapal di Lampulo

PLTD 
Melihat kedahsyatan di Lampulo, kita dapat lebih takjub lagi melihat kapal PLTD Apung I milik PLN yang terdampar di tengah- tengah kota. Kapal seberat ratusan ton, dapat terbawa arus ke tengah kota, dari laut yang berjarak sekitar 5 Km. Karena tidak mungkin untuk menderek, mengangkut, apalagi mengangkat kapal tersebut kembali ke tengah laut, kapal tersebut juga dijadikan monumen, bukti kedahsyatan kuasa Alloh. Sayang, kami saat itu tidak dapat melihat lebih dekat isi dalam kapal, karena sedang diadakan pembangunan museum, agar kapal tersebut dapat lebih nyaman dinikmati. Kami datang pada bulan Februari dan menurut info, pada bulan April 2012, monumen PLTD Apung sudah dapat dinikmati masyarakat umum.

PLTD Apung I
PLTD Apung I

Kuburan Masal I 
Sebelum menuju pelabuhan, di daerah Ulee Lheue, karena searah, kami mampir untuk melihat kuburan massal yang pertama, yang dikelilingi pagar bertuliskan Asmaul Husna. Di sebelah makam, kita dapat melihat kembali tanda kebesaran Alloh, berupa Masjid Baiturrahim yang tidak rusak diterjang tsunami, padahal daerah sekitar porak- poranda diterpa ombak. Terdapat sekitar 15.000 korban tsunami yang dikuburkan disini. Tidak ada nisan, hanya terdapat penunjuk lokasi, apakah itu kuburan anak-anak, atau orang dewasa.
Gerbang Kuburan Massal
Gerbang Kuburan Massal
Kuburan Massal Ulee Lheue
Kuburan Massal Ulee Lheue
Papan Informasi dan Ex. Rumah Sakit Ulee Lheue
Papan Informasi dan Ex. Rumah Sakit
Ulee Lheue 
Cukup sedih mengingat bagaimana dulu tejangan tsunami menghantam Aceh. Perjalanan dilanjutkan pada sore hari menuju pelabuhan Ulee Lheue, dimana kita bisa melewati pelabuhan ini jika kita ingin ke Sabang, dan pulau sekitarnya. Airnya cukup jernih, tidak seperti banyak lautan di daerah Pantura, Pulau Jawa. Ternyata, masih ada juga yang berpacaran di Aceh, Tertangkap kamera, hahahaha… Tapi umunya, mereka masih malu- malu, apalagi jika dilihat orang, tidak seperti di kota- kota besar di Jawa, yang sudah tidak malu lagi memepertontonkan aurat dan kemesraan di depan umum. Memandang ke laut, kita dapat melihat pulau Sabang di seberang, sayang, kami belum memiliki kesempatan untuk mengunjunginya. I’ll be back, Baby…  :)
Monumen Ulee Lheue
Monumen Ulee Lheue
Pulau Sabang, Kejernihan Air, dan Pacaran!! Haha
Pulau Sabang, Kejernihan Air, dan Pacaran!! Haha
Hari sudah sore, karena agak penat, kami beristirahat dulu di kamar tamu seorang kerabat. Sebenarnya ada janji bertemu kerabat lama di daerah Banda Aceh pada pukul 5 sore, tapi sekali lagi, sangat sangat sayang, ada hal lain yang membuat kami tidak dapat melakukannya. Kita lanjutkan lagi petualangan di hari esok, dengan cerita berbeda pula. See you soon…

You Might Also Like

0 comments

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)

Promo Tiket Pesawat

Member Of



Travel Blogs
best blogs