Goes to Banda Aceh (Tsunami Memory) A Place Blessed with Natural Beauty and As A Spiritual Gateway -Day II

5:40:00 AM Dimas A. R. Kambuna 0 Comments

Kita ketemu lagi… :) Hari yang melelahkan kemaren, karena emang 2 hari ya harus dimanfaatkan sebaik- baiknya buat jalan- jalan. Di hari kedua ini, atau tepatnya hari Minggu, kami berencana ke pantai, yang katanya pemandangan n pantainya bagus di daerah Lhoknga. Maka, sekitar jam 8 pun kami bersiap- siap untuk pergi. Agak kesiangan sih, sebenernya, tapi ya itu, karena kami kecapekan, jadi butuh istirahat agak lama. Kami sampai di daerah Lhoknga sekitar pukul 9, berangkat dari tempat kami menginap di sekitar Polda Banda Aceh. Namun, karena papan penunjuk arah yang agak kurang, kami jadi kurang tahu mana yang dimaksud Pantai Lampuuk, karena tujuan utama kami ke Pantai tersebut. Di sepanjang jalan kami benyak melihat rambu lalu lintas bergambar sapi, ternyata itu ditujukan buat pengendara bahwa banyak sapi yang suka melintas di jalan raya, tanpa diawasi pemiliknya. Jika kita tidak berhati- hati, bisa-bisa kita menabrak sapi yang tiba- tiba melintas.

Kami melewati Pabrik Lafarge Cement, dan nyasar sampai ke daerah Leupong, yang sudah masuk daerah hutan, banyak monyet di pinggir jalan, dan jalan kecil berbelok- belok. Kami pikir, setelah hutan tersebut akan ada pantai, seperti di daerah Wonosari-Jogja. Ditelusuri agak lama tapi kok belum keluar dari hutan, mau tanya, orang yang tinggal disitu ga ada. Akhirnya kami menemukan orang untuk ditanya, dan ternyata kami nyasar!! Haha.. Kalo kami terus mengikuti jalan itu, kami bisa sampai di Meulaboh, Aceh Selatan. Lumayan jauh kami nyasar, sekitar 10 Km-an mungkin ada.
Pemandangan menuju Lhoknga
Pemandangan menuju Lhoknga
Jalan menuju Lhoknga
Jalan menuju Lhoknga

Kami pun berputar balik. Ternyata, dari atas, dapat terlihat bahwa daerah sini memiliki beberapa pantai yan cukup indah. Kami pun mampir pada beberapa titik, ada yang daerah pantai berbatasan dengan perbukitan yang kami lewati, dengan air yang masih agak hijau karena tercampur lumut air tawar, ada juga pantai yang masih sepi dengan pemandangan indah. Cocok sekali sebenarnya, untuk wisata keluarga. Pasirnya berupa pasir basah. Lanjut turun ke bawah, ada juga pantai yang lumayan rame, dengan sebuah cekungan yang menjadi spot bagi anak- anak maupun keluarga untuk bermain dan berenang. Pasirnya pasir putih, dengan banyak batu karang tajam yang menghiasi. Pantai yang indah, benar- benar indah, dan belum begitu terjamah. Rata- rata, pantai yang ada cukup bersih, dan ketiga pantai tadi tidak ditarik retribusi ataupun parkir sama sekali. Itulah enaknya di Aceh. Di pantai ini lah saya bertanya pada salah satu keluarga yang datang, dimana Pantai Lampuuk itu.

Pantai dekat Bukit
Pantai dekat Bukit
Pantai dengan Karang Tajam
Pantai dengan Karang Tajam
Pantai Leupong dengan Pasir Basah
Pantai Leupong dengan Pasir Basah

Setelah mengikuti petunjuk yang diberikan, kami pun sampai di Pantai Lampuuk, dengan retribusi sekitar Rp 3000,00/orang kalo ga salah, plus parkir. Pantai ini memang sudah dikelola menjadi tempat wisata, dengan beberapa penjual makanan dan gubuk- gubuk sebagai tempat berteduh. Pantai inilah yang paling ramai, karena pangunjung bisa bersantai dan makan-makan tanpa perlu repot membawa tikar ataupun bekal makanan. Makanan pun masih dalam kategori harga yang wajar untuk daerah Aceh. Pantainya indah, pun pemandangannya. Sama seperti pantai sebelumnya, dengan air yang masih jernih, belum banyak tercemar. Pantai ini saya rasa patut direkomendasikan jika kita berkunjung ke Banda Aceh, apalagi pagi- pagi, atau sore hari.

Pantai Lampuuk, Banda Aceh
Pantai Lampuuk, the best one

Sekitar pukul 11.30 pun kami “cabut” dari Lampuuk, diajak mampir ke rumah salah satu karyawan di Aceh yang memiliki rumah di daerah Lhoknga. Arsitektur rumahnya cukup unik, rumah baru, baru 2 tahun, karena dulu daerah tersebut juga terkena tsunami. Sayang, tidak sempat kami ambil gambarnya. Oh iya, di kompleks Pantai Lampuuk juga ada kuburan massal-nya, tempat mengubur korban tsunami di sekitar daerah Lhoknga.

Kami pulang dari Lhoknga menuju Banda Aceh lagi. Mampir sebentar untuk melihat Rumah Aceh di Banda Aceh, sekitar jam 2 siang. Kami kembali menuju Baiturrahman untuk sholat, sebelum kemudian membeli oleh- oleh dan titipan dari orang rumah. Waktu itu, kami ditemani teman spesial, satu- satunya teman SD yang bisa ditemui selama di Banda Aceh, Rini Foelyati. Rini mengajak kami beli tas di toko langganannya. Kmi beli begitu banyak barang disana, dan kami pun disuguhi secangkir kecil kopi Aceh. Setelah saya habiskan, saya merasa agak pusing, terus ada yang nyeletuk “tu kopinya dicampur ga*ja sedikit”. Entah benar atau tidak, tapi itulah yang saya rasakan. Pengalaman! Hehehe…
Rumah Aceh
Rumah Aceh
Rumo Aceh
Rumo Aceh
Kuburan Massal Siron2
Kuburan Massal Siron1
Kuburan Massal Siron
Kuburan Massal Siron
Sekitar jam 5 pun kami harus berpisah, mengantar Rini pulang ke kos, dan menjemput teman yang kemaren ikut ke Banda. Sebelum benar- benar meninggalkan banda, kami mampir lagi ke kuburan massal lainnya, Kuburan Massal Siron pada pukul 6 sore. Di Aceh kan masih terang, jam segitu. Ada semacam ornamen berbentuk ombak di dalam kuburan itu, dan gerbang besar bertuliskan “Kuburan Massal Siron”. Setelah mengambil foto sebentar, kami pun pulang kembali menuju Lhokseumawe.

Good bye, Banda Aceh… See you next time… :)

You Might Also Like

0 comments:

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)