Hilangnya Kesakralan Waisak di Borobudur | Etika dalam Berwisata

11:30:00 AM Dimas A. R. Kambuna 4 Comments

Miris. Itulah keprihatinan saya membaca sebuah artikel berjudul “Kisah Suram Waisak di Candi Borobudur Tahun Ini”, yang diadakan pada Sabtu, 25 Mei 2013. Bagaimana para pengunjung bersikap seenaknya, bagai wisatawan yang tidak pernah diajari adat kesopanan khas ketimuran, juga nilai luhur bangsa Indonesia yang selalu menghormati keberagaman.
waisak di borobudur
Upacara Waisak di Borobudur (foto diambil dari sumber)
Hilangnya kesakralan Waisak tampak akan dimulai sejak siang, saat padatnya wisatawan yang memadati jalan masuk menuju Candi Borobudur. Kebanyakan turis mengaku menanti ritual pelepasan seribu lampion, yang menjadi penanda berakhirnya prosesi Waisak tahun ini.
Hilangnya Kesakralan Waisak
Ramainya Waisak, Mengurangi Kekhusyukan dalam Beribadah (foto diambil dari sumber)
Lihatlah petikan kalimat berikut yang dimuat dalam artikel tersebut di travel.okezone.com:
“Karpet yang seharusnya menjadi tempat duduk para umat Buddha justru dipenuhi turis, sebagian besar anak muda yang tidur-tiduran sambil bercanda ria. Jumlah turis bahkan lebih banyak dibandingkan umat Buddha yang ingin beribadah hingga cukup mengganggu kekhusyukannya.”

"Kami sudah menunggu lama!" "Kapan acara lampionnya?," begitu teriak turis-turis itu.

Saat sambutan dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun terdengar tak bisa tenang. Di sana-sini terdengar suara teriakan dan tawa mereka.

"Tolong jangan naik ke altar, ini tempat yang tidak boleh dinaiki," kata seorang biksu kepada pengunjung, karena mereka semakin merangsek ke depan saat para biksu berdoa, dan mereka membuat dokumentasi menggunakan kamera plus lampu flash.

"Tolong, bagi pengunjung yang ingin juga melakukan Pradaksina, harap tertib. Jangan menghalangi jalannya biksu," demikian peringatan dari pembawa acara. Namun lagi-lagi diabaikan, bahkan seorang biksu terinjak-injak kakinya oleh pengunjung.

Teriakan dan keluhan marah dari pengunjung segera terdengar. Sebagian meninggalkan area candi, sebagian lagi ada yang naik ke panggung, mengambil bunga-bunga dan hiasan panggung. Area Borobudur menjadi sangat kotor oleh botol minuman, tisu, dan bekas bungkus makanan.
Dengan melihat petikan kalimat tersebut saja Anda juga sudah dapat menyimpulkannya, kan? Bagaimana para pengunjung tidak menghormati acara ibadah yang dilakukan umat lain, tidak memerhatikan etika yang ada. Anda mungkin juga bisa saja sebal melihat kelakuan wisatawan, seperti teman saya, yang sangat sebal dengan hal itu.

Komentar mengenai Insiden Waisak
Salah Satu Komentar mengenai Insiden Waisak
Seharusnya, para wisatawan tersebut dapat mengetahui etika, tata krama, dan kesopanan yang berlaku, walaupun Anda telah membayar untuk melihatnya, mendapat izin masuk, dan sebagainya. Tentunya para turis tersebut telah mengetahui sejak awal, bahwa Waisak ini adalah acara sakral bagi sebuah agama, dimana mereka memanjatkan doa. Peraturan, tata krama, dan norma-norma yang ada tentu tidak perlu disebutkan semua sejak awal, menjadi peraturan yang diucapkan oleh panitia, dilantangkan dengan pengeras suara terus menerus. Harusnya mereka mengetahui hal itu, tanpa harus diingatkan, apalagi ini sampai berulang kali, hingga mengganggu ketenangan umat tersebut. Terlihat tidak ada toleransi agama dalam acara itu.

Anda mungkin dapat membayangkan, ketika Anda dan keluarga sedang khusyuk berkumpul, membicarakan masalah keluarga, tiba-tiba ada orang yang masuk seenaknya, dan memfoto Anda dan narsis di samping Anda!

Atau mungkin Anda dapat membayangkan tiba-tiba ada orang foto sana-sini memakai kamera plus flash ketika Anda berusaha khusyuk untuk beribadah. Anda tentunya tidak akan senang akan hal itu.

Atau juga, Anda pergi ke suatu daerah terpencil dengan budaya yang kental, tiba-tiba Anda masuk saja ke daerah tersebut, tanpa izin, dan langsung melakukan pemotretan di tampat sakral daerah tersebut, apalagi foto "narsis geje", mungkin Anda akan dikeroyok, dipukul warga desa tersebut.
Upacara Waisak yang Tenang
Upacara Waisak yang Tenang
Ketika Anda melakukan kunjungan wisata, baik itu wisata alam, wisata bersejarah, wisata religi, bahkan wisata kuliner, tentunya disitu ada aturannya, baik tertulis dan tidak tertulis. Ada adat istiadat masing-masing, budaya di setiap daerah yang berbeda-beda, dan Anda harus menghormati hal tersebut. Ada etikanya, yang membuat orang lain tenang, pemilik kepentingan dapat melaksanakan acaranya dengan baik, khusyuk, khidmat, apalagi ini berkaitan dengan ibadah, keyakinan seseorang. Hal ini kan juga ada Undang-Undangnya di Republik Indonesia ini, yang telah lama ada.

Marilah kita ke depannya, untuk dapat lebih menghormati keberagaman yang ada, mengetahui etika dalam berwisata, jangan seenaknya sendiri. Ketika hal itu dapat dilaksanakan, tentunya semuanya akan merasa aman, nyaman, dan damai.

Lets do a good travelling. :)

You Might Also Like

4 comments:

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)