Grenjengan Kembar, Curug Indah yang Belum Terjamah

5:30:00 PM Dimas A. R. Kambuna 26 Comments

Hmm.. Bulan puasa sudah mulai nih. Semuanya bisa tetep semangat kan, waktu puasa? Yang jalan-jalan tetep jalan-jalan? Ngomong-ngomong puasa, saya jadi inget pas KKN saya dua tahun lalu nih, dan momen ini kembali teringat oleh saya melihat sebuah blog teman saya, “dhonalicious”. Entah kenapa, kok saya bisa lupa telah mengunjungi tempat ini.

Nama tempatnya adalah Grenjengan Kembar. Saya kurang tahu arti grenjengan, terlihat agak aneh di telinga, hehe. Awalnya saya mengira grenjengan tu artinya air terjun, tapi di Google kok ada yang nulis “air terjun grenjengan”, “curug grenjengan”, double dong berarti?
grenjengan kembar air terjun
Air Terjun Grenjengan Kembar
Awal saya mengetahui air terjun ini berasal dari Pak Camat Pakis, Bapak Wisnu Harjanto. Pak Camat terlihat begitu “senang” dengan kami, anak-anak UGM yang sedang KKN. Saat itu, memang Pak Camat memiliki program untuk memperkenalkan Grenjengan Kembar dengan lebih luas, promosi wisata Kecamatan Pakis, kami pun disuruh untuk meninjaunya terlebih dahulu.

Awal kesana, kami belum membawa perlengkapan yang memadai, barulah ketika ada teman-teman dari Yogyakarta yang berkunjung, kami mengajak mereka kesana, itung-itung promosi wisata juga. Hehe.

Grenjengan Kembar terletak di Dusun Citran, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Magelang, Jawa Tengah. Tak terlalu sulit mencari info maupun jalan tempat ini, karena terletak di jalur dua tempat wisata terkenal, yaitu jalur Ketep Pass dan Kopeng Salatiga. Anda hanya perlu mencari plang “SMP Negeri 4 Satu Atap Pakis, atau Makam Panembahan Ngabei Noto sebagai jalan masuk ke curug ini. Atau ada alternatif lain, melewati perkampungan warga yang tentunya akan ditemui keramahan warga Pakis jika Anda kesulitan menjumpai lokasi curug. Tapi, kalo lewat perkampungan, jalannya kecil, mobil sulit untuk lewat.
grenjengan kembar fall from sky
Air Seakan Jatuh dari Langit
Tak ada retribusi wisata disini, karena sepertinya air terjun ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat, masih sebatas wacana untuk mempromosikannya. Retribusi parkir pun hanya sebatas untuk memberikan masukan bagi pemuda yang menunggu parkir. Kita dapat memarkirkan kendaraan kita di halaman rumah warga yang terletak tidak begitu jauh dari curug.

Dari tempat parkir, kita harus menelusuri jalan setapak dari tanah yang telah dibuat aksesnya oleh warga setempat. Untuk menuju Grenjengan kembar, tak ada jalan curam dengan tangga naik turun ekstrim. Yang ada hanyalah jalan landai yang cukup memudahkan kita, para pengunjung. Kalo di Curug Cimahi atau Grojogan Sewu kan kita harus kuat turun, setelah puas main-main, truz harus menghadapi ratusan anak tangga lagi yang curam. Hahaha...

Ada spot unik saat kita jalan menuju Grenjengan Kembar. Kita dapat mengukirkan nama kita di tembok dari tanah liat, sebagai bukti kita telah mengunjungi Grenjengan Kembar. Apalagi yang suka dateng berpasangan tuh, biasanya suka coret-coret. “aku kesini bersama kamu”, “aku cinta kamu”, “I miss you”. Ahahahaaa. Selain itu, ada juga jembatan bambu yang dibuat warga untuk melintasi cekungan kecil, sehingga kita bisa sampai di air terjun.
grenjengan kembar dinding tulis
Dinding Tulis
grenjengan kembar jembatan
Spot Foto di Jembatan Bambu (Foto:dhonalicious)
Setelah menempuh jarak sekitar 300 meter, gemericik air mulai terdengar. Dan benar saja, terlihat air terjun yang seakan terbelah menjadi dua bagian. Dan kembali menyadari, bahwa daerah di Indonesia memiliki banyak potensi wisata alam yang sangat bagus untuk dikembangkan, dipromosikan. Namun belakangan, saya baru tahu kalau air terjun yang saya kunjungi saat itu, debit airnya sedang kecil. Hal ini terlihat dari perbandingan air terjun saat saya kesana, dengan foto review dari blog lainnya. Seharusnya juga ada dua curug yang mengalir bersamaan, sehingga disebut “Kembar”, sedangkan yang waktu itu saya lihat hanya satu.
grenjengan kembar air mengalir
Air Mengalir Lumayan Deras

Pemandangan Saat Air Mengalir Deras (Foto:catatan si nobi)
Sumber curug ini berasal dari anak sungai Cebong yang mata airnya dari lereng gunung Merbabu. Saat itu saya mengunjungi Grenjengan Kembar di sekitar bulan Juli, yang termasuk bulan kemarau sehingga debit air kecil. Rekomendasi yang mau kesini, bisa saat musim hujan telah tiba, tetapi hati-hati ya, dengan medan perjalanannya.
grenjengan kembar debit air kecil
Debit Air Kecil
Suasana masih sangat sepi di sekitar Grenjengan Kembar, masih sangat jarang orang yang berkunjung, lingkungan pun masih alami dan tak banyak dijumpai sampah. Patut dipertahankan walaupun nantinya sudah terkenal. Air sungai yang berada di bawah air terjun ini tidak begitu dalam, terbilang dangkal malah, hanya selutut orang dewasa. Enak banget tuh buat mandi-mandi di bawah air terjun, ato merasakan gaya seorang pertapa di bawah air terjun (karena waktu itu airnya ga terlalu deras). Cuma, karena waktu itu banyak yang ga bawa baju ganti, plus banyak cewek, jadi malu mau main air sampe basah, ntar badan “kekar”nya keliatan. Hahaha..
grenjengan kembar background curug
Background Air Terjun, Happy-Happy
grenjengan kembar air dangkal
Air yang Dangkal
grenjengan kembar percikan air
Percikan Air Menambah Seru Suasana
Overall, air terjun Grenjengan Kembar ini memang layak untuk dipromosikan sebagai tempat wisata, tempatnya pun sangat strategis, terutama bagi wisatawan yang habis mengunjungi Ketep Pass, dan mau main ke Kopeng, Salatiga. Tinggal komitmen untuk mempromosikannya, dari pemerintah desa, kecamatan, daerah, dan warga setempat untuk saling bekerjasama.

Itung-itung memenuhi sebagian tugas KKN dari Pak Camat, ni disini saya promosikan ya, Pak. Hehe.. Sudah membantu promosi wisata Kecamatan Pakis lewat cerita saya. Saat itu kami memang hanya mengambil lingkup tugas di daerah Desa Pogalan saja, mengingat sumber daya kami yang terbatas.
grenjengan kembar promosi KKN Pogalan
Bentuk Cinta Tempat KKN, Promosi :D
Semoga kami suatu saat bisa berkunjung lagi kesana, jalan-jalan lagi dan mengeksplor lagi tempat wisata disana. Karena bersenang-senang, walaupun saat itu bulan puasa, tetapi lapar tidak kami rasakan. Baru kami rasakan saat pulang menjelang magrib (sama aja). Hahaha...
grenjengan kembar belum terjamah
Dari Kejauhan, Banyak Wisata yang Belum Terjamah
grenjengan kembar indahnya air terjun
Semoga Bisa Kembali, Kapan-Kapan :)
Jadi, banyak tempat wisata yang belum terjamah, ayo traveler, kita promosikan lewat cerita kita, saling share, saling berbagi. Dan terbukti kan, puasa bukan menjadi halangan buat jalan-jalan. :)

Yuk, kita tetap jalan-jalan, mengeksplorasi keindahan alam Indonesia.

You Might Also Like

26 comments:

  1. wah . seru ya andai bisa ke sana langsung dan menikmati air terjunnya

    grenjengan ? ... msh asing di telingaku nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Ely, jalan menuju kesananya juga seru, lho.. :D

      Sama nih, masih bingung sama artinya, nyari di Google jg belum ketemu. Tapi di Google ada beberapa daerah juga yang make kata "grenjengan" buat air terjun.

      Delete
  2. jd artinya sama dengan air terjun ya grenjengan itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya sih gitu Mba, tapi ga tau bahasa mana. Biasanya bahasa Jawa, yg perbendaharaan katanya banyak, dari yang aneh sampe yg membingungkan di-Indonesia-an. Hehe..

      Delete
  3. cerita perjalanan dan foto yang eksotik. senangnya bisa mengenal blog ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Iya Mas, cm share cerita aja disini. :)
      Sama2 Mas, saling silaturahim.

      Delete
  4. Wah bagus juga air terjunnya. Mungkin tahun ini debit airnya besar terus ya Mas, kan sepanjang tahun hujan terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas Krisna. Saya juga rencana memang pengen kesana lagi, sekalian njenguk tempat KKN dulu. Hehe

      Pasti lebih oke kalo difoto pas debitnya besar. :D

      Delete
  5. Cakep ... jadi pingin mandi disana :)

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Iya ni Bang, kesini terus poto kayak di Curug Malela lagi tuh. Hahaha..

      Kece nih, kalo lagi banyak airnya.

      Delete
    2. Ganti pose dong, yang lebih menantang dan merangsang hahaha

      Delete
    3. Jiahahahaa.. Kayak poto Abang itu ya, pake #cd# doang? Ntar heboh nih, dikira ada perayaan halloween.. Hahahaaa

      Delete
  7. sekitaran sini ada air terjun lagi g ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setau saya sih yang terdekat tu yang di Wonolelo, Mas.. DUlu pernah kesana, uadem beneeerrrr hhahaaa

      Delete
  8. Seru banget ya...semoga segera bisa sampai ke tempat ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin, Bang, walaupun perlu sedikit eksplore dan "mblusuk2".. :)

      Delete
  9. Such amazing place. nice clicks. it seems to be lots of fun. thanks for posting nice views.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeah, thats right.. It's amazing places..
      Thanks for visiting my website.. :D

      Delete
  10. Replies
    1. waaaa.. artinya apa nih? hehee.. Btw, thanks for coming.. :)

      Delete
  11. Keren air terjunnya, nyempil malah terkesan alami. Perjuangan akan menghasilkan sesuatu yang sepadan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp that's right.. Kepuasan tersendiri kalo berjuang keras sebelum mendapatkan hasilnya :D

      Delete
  12. Grenjengan di jawa timur artinya grenjeng seperti kertas yang kaku ada pada bungkus rokok bagian dalam, tapi unik namanya air terjun grenjengan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oooh kalo di Jawa Timur gitu ya.. Tapi kalo ini apa yaa? Dari air terjun bisa jadi grenjengan.. Hehehe

      Makasih udah mampir, Sintya..

      Delete
  13. nama air terjunnya unik banget ya, banyak tempat yang bagus buat foto-foto juga.. nice

    ReplyDelete

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)