Inspirasi dan Jiwa Petualang dari Aceh

12:00:00 PM Dimas A. R. Kambuna 6 Comments

Semua seakan bermula jauh sebelum saya lahir. Tahun 1980. Saat kedua orang tua saya mulai mendarat di bumi Serambi Mekah. Kota Lhokseumawe, sebuah kota yang berjarak lebih dari 2.500 kilometer dari tanah kelahiran orang tua saya, Pemalang, Jawa Tengah. Hingga peristiwa itu datang. Awal Juni tahun 1990, saat sebuah Kapal Kambuna tengah melintasi Selat Malaka. Pukul 5 pagi, saat ombak masih berdebur, lahirlah seorang bayi di dunia. Tak ada yang menyangka bahwa bayi itu ingin melihat dunia lebih cepat, menjadi satu dari sekian bayi yang lahir dalam luasnya lautan yang dimiliki oleh Indonesia. Ya, bayi itu adalah saya.
Inspirasi Aceh Beauty
Inspirasi dan Jiwa Petualang dari Aceh
Seorang bayi yang dibantu dilahirkan oleh seorang dokter bernama Didit Roeseno. Tangis bahagia pun pecah di antara keluarga kami. Melalui perjuangan keras seorang ibu, dengan taruhan nyawa, semuanya menyambut kelahiran seorang bayi. Begitu banyak penumpang kapal yang mendoakan, di tengah ratusan penumpang, semua ikut tersenyum dan memberikan selamat. Setelah kakak-kakak saya semuanya lahir di Aceh, rencana awalnya adalah membawa ibu yang mengandung saya ke Pemalang, dan melahirkan saya di tanah kelahiran kedua orang tua saya, tapi Alloh berkata lain. Alloh memiliki takdir tersendiri untuk saya. Tersebutlah seorang Dimas Agil Roeseno Kambuna, mengambil nama dokter yang telah berjasa di tengah lautan, dan nama Kapal Kambuna, tempat saya dilahirkan.
Inspirasi Aceh Bayi Kambuna
Bayi Dimas Agil Roeseno Kambuna
Tumbuh kembang di perumahan sebuah perusahaan pupuk, Lhokseumawe, tempat bapak saya bekerja. Bertemu begitu banyak teman dari berbagai daerah. Bermain sepak bola, bersepeda, bertualang, sekolah, mengaji, semua seakan menuju sebuah muara kegembiraan yang sama, dan itu menanamkan impresi pertama dari sebuah daerah multi etnis. Semua seakan berjalan sempurna, tetapi takdir kembali berkata lain. Gejolak melanda Aceh pada tahun 1999. Umur belia membuat saya tak begitu tahu apa yang terjadi. Keluarga pun berusaha membuat semuanya tenang dan merasa aman. Namun, situasi terlihat semakin tidak bisa dikendalikan, tembakan dan ledakan mulai sering terdengar. Lingkungan pun mulai tercerai-berai. Banyak yang memilih untuk kembali ke daerah masing-masing. Termasuk dalam golongan akhir yang pindah adalah keluarga saya. Terasa begitu sepi saat banyak teman telah pindah. Kami pun akhirnya memutuskan pindah, kembali ke kampung halaman, kecuali Bapak.

Berpisah dengan teman-teman, dengan lingkungan tempat saya tumbuh. Meninggalkan banyak kenangan masa kecil. Di usia yang masih sangat muda, tak banyak eksplorasi luar daerah yang saya lakukan, hanya sempat ke Banda Aceh untuk mengikuti lomba Matematika, berwisata ke Brastagi, Sumatra Utara, atau hanya sekedar ke pantai sekitar Lhokseumawe. Tak lebih dari itu. Namun, semuanya meninggalkan kesan yang begitu kuat.
Inspirasi Aceh masa kecil
Semua seakan di Trek yang Benar, hingga Peristiwa Itu Datang. Namun, Kesan telah Melekat
Tak terbayang situasi yang harus dihadapi Bapak saat Aceh bergejolak. Penculikan, tembakan, dan ledakan sering terjadi. Kami pun selalu mendoakan keselamatan Bapak. Kembali. Alloh menghadirkan sesuatu yang spesial tentang Aceh. Di kala banyak orang bersantai di hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Alloh menghentak negeri Serambi Mekah ini dengan gempa yang begitu dahsyat. 9,3 Skala Richter. Tsunami pun melanda beberapa daerah di Aceh. Banda Aceh porak-poranda. Meulaboh terkena dampak yang dahsyat pula. Tak terbayang kondisi nyata disana, saat Bapak saya ikut menjadi relawan. Mayat bertebaran dimana-mana, 126 ribu lebih orang meninggal dunia, ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal dan keluarga. Aceh berduka dan menjadi sorotan dunia, sekaligus menggoreskan sejarah dunia akan bencana yang begitu dahsyat yang menimpa negeri ini.

Hidup di Pemalang dan menghabiskan masa remaja disana, dan dilanjutkan menempuh studi di Yogyakarta ternyata tak membuat Aceh hilang dari garis takdir. Sosial media membuat kami kembali terhubung, dengan teman Aceh, maupun yang telah tinggal di daerah masing-masing. Di Yogyakarta pun saya kembali bertemu beberapa teman satu lingkungan di Aceh dulu.

Dan pada akhirnya, Alloh kembali menggoreskan suatu benang merah antara saya dan Aceh. Kerja Praktek merupakan suatu keharusan dalam kurikulum kampus. Dan ternyata, proposal Kerja Praktek saya diterima oleh perusahaan tempat Bapak pernah bekerja (saat itu Bapak sudah pensiun). Aceh dan saya pun kembali bertemu. 30 Januari 2012 siang, pesawat pun membawa kami terbang menuju Medan. Medan pun tampak mengalami perubahan. Tampak gedung-gedung yang menjulang tinggi, layaknya kota metropolitan, dan mempertahankan predikat sebagai salah satu kota ter-ramai di Sumatra. Pagi tanggal 31, kami pun menelusuri jalan Medan-Lhokseumawe menggunakan bus.
Inspirasi Aceh gerbang PIM
Lingkungan yang Dijumpai, Memunculkan Memori yang Sempat Hilang
Semakin dekat, beberapa memori yang telah hilang mulai kembali satu-persatu. Rel kereta yang masih terbengkalai, kerindangan pohon, hingga tabung LNG yang menjulang, milik salah satu perusahaan negara. Tugu jam di jalan masuk perumahan seakan membuat beberapa saraf memori otak kembali tersambung. Waktu satu bulan untuk mengeksplorasi Aceh pun terasa sangat kurang mengingat ada kewajiban untuk menjalani suatu pengenalan kerja dalam suatu perusahaan.

Namun, petualangan saya sudah dimulai pada hari keempat saya menginjakkan kaki di Aceh. Perjalanan pertama menuju Takengon bersama rekan kerja Bapak. Saya dan Fahmi (teman KP), yang masih agak mengalami jetlag, tetap antusias untuk berjalan-jalan. Waktu yang ada harus kami maksimalkan. Perjalanan selama 4 jam dan jalanan berkelok yang harus kami tempuh terbayar lunas dengan pengalaman yang saya dapat. Daerah sejuk, nikmatnya kopi khas Gayo, keramahan warga, dan pemandangan luar biasa yang ada di danau air tawar semuanya menyambut kami di hari itu.
Inspirasi Aceh danau air tawar takengon
Kelelahan Terbayar Melihat Pemandangan Menakjubkan
Hari demi hari pun berlalu. Di usia dewasa ini, saya semakin mengenal keistimewaan Aceh, terutama pasca-tsunami. Logat yang khas, penegakan syariat Islam, tak ada celana pendek seksi, tak ada tanktop, cewek Aceh dengan perpaduan wajah Melayu-Indonesia-Timur Tengah, labi-labi, dan masih banyak lagi. Bertemu dengan teman lama, setelah 13 tahun terpisahkan jarak, di perumahan perusahaan, membuat saya merasa kembali di tengah-tengah keluarga besar, dengan latar belakang yang sama.

“Lonceng” pun kembali dibunyikan ketika saya berkesempatan mengunjungi Banda Aceh di minggu terakhir kami di Aceh. Dimulai dari “kejutan” pemberian fasilitas yang “wah” di Banda Aceh, hingga pengalaman kami selama disana. Masih terlihat Masjid Baiturrahman yang berdiri kokoh, museum tsunami dengan arsitektur indah beserta beberapa bukti kedahsyatan tsunami, monumen kapal di Lampulo yang bertengger di atap rumah, hingga PLTD Apung I milik PLN yang terseret beberapa kilometer dari tempat asalnya. Kopi yang katanya dicampur sedikit g*nja sebagai penyedap pun sempat mengiringi petualangan kami. Hahaha.
Inspirasi Aceh masjid baiturrahman kokoh
Masjid Baiturrahman tetap Kokoh saat Tsunami
Dengan program dari pemerintah Banda Aceh, “A Place Blessed with Natural Beauty and as a Spiritual Gateaway”, terlihat bahwa Aceh ingin kembali bangkit, kembali menata diri, dari keporak-porandaan, dari hancurnya fasilitas dan segala yang ada disana. Pantai-pantai mulai dikelola, walaupun belum semuanya. Pantai indah nan sepi, seakan kita bisa memiliki suara deburan ombak dan semilir angin, hanya untuk kita sendiri. Kuburan massal yang saya kunjungi menimbulkan keprihatinan akan rasa kehilangan dan suasana mencekam yang dialami saksi hidup tsunami.

Inspirasi Aceh kuburan massal
Kuburan Massal, Duka Takkan Terlupa
Petualangan yang berakhir pada bulan Maret 2012 membuat saya bersyukur sekaligus sedih. Bersyukur dengan kesempatan yang Alloh berikan untuk kembali bertemu dengan beribu kenangan di Aceh dan merasakan petualangan baru. Sedih karena harus berpisah meninggalkan negeri dengan berjuta keunikan dan keistimewaan.

Satu yang saya suka dari Aceh adalah belum banyaknya komersialisasi disana, terutama tiket masuk wisata dan parkir. Hal ini hampir berlaku di semua daerah di Aceh. Namun, untuk bangkit, untuk dikenal lebih luas akan keistimewaannya, promosi dan pengelolaan itu perlu. Seperti danau air tawar di Takengon, sangat sayang jika hanya dibiarkan begitu saja, hanya dikenal oleh orang-orang tertentu dan tak banyak fasilitas pendukung disana. Juga pantai-pantai indah yang kurang begitu dikenal. Hanya Sabang yang seakan berdiri sendiri, dengan segala potensi keindahan pantai dan titik menyelamnya, sebagai pulau terujung dari NKRI.
Inspirasi Aceh pantai lampuuk
Pantai dan Wisata Lainnya, Perlu Pengelolaan dan Promosi
Tidak sempat mengunjungi Sabang, yang sudah tampak di pelupuk mata saat kami mengunjungi Ulee Lheue, juga menimbulkan rasa penasaran dalam diri, menimbulkan dorongan untuk kembali ke Aceh, dan menjelajahi setiap jengkal keunikan di Aceh. Dari Aceh lah saya menemukan banyak inspirasi untuk berbagi cerita melalui blog. Di Aceh lah saya bertemu dengan wanita “blasteran” Aceh-Sunda-“Uzbekistan”. Dari Aceh lah seakan gerbang terbuka, untuk mulai menjelajahi keunikan suatu daerah, menimbulkan jiwa petualang dalam diri ini untuk bertualang di Aceh, juga daerah lainnya.
Inspirasi Aceh pulau sabang
Sabang, Hanya di Pelupuk Mata
Di usia 22 tahun, saya rasa tidak ada kata terlambat untuk melangkah, untuk mengawali berbagai petualangan yang saya impikan di masa depan. Impian besar untuk menjelajahi Indonesia, memperkenalkan keindahan alam Indonesia, mempromosikan ragam budaya dan seni Indonesia. Dan saya percaya suatu saat nanti saya bisa mewujudkannya, hanya masalah waktu saja saya kira.

Mari kita bertualang, menjelajahi Indonesia bersama, melihat keindahan Indonesia.

You Might Also Like

6 comments:

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)