Kampanye "Menjadi Traveler yang Bertanggungjawab"

7:30:00 PM

Maksudnya apa ya? Kok kita harus jadi traveler yang bertanggungjawab?

Masih ingatkah, dengan artikel yang pernah saya tulis, tentang perayaan Waisak yang menjadi amburadul karena pengunjung yang “merecoki”, mengganggu beragam prosesi ibadah yang sedang dilakukan? Mereka hanya ingin mencari gambar bagus, berpose dengan latar belakang unik, dan menunggu acara puncak, berupa pelepasan lampion. Mereka enggak mau tahu ada upacara, ada prosesi ibadah yang sedang dilakukan.
Menjadi Traveler yang Bertanggung Jawab
Menjadi Traveler yang Bertanggungjawab
Nah, kalo ini ada bahasan berbeda. Tapi tetap berkaitan, yaitu tentang perilaku traveler, pejalan yang berwisata di suatu lokasi. Berawal dari sebuah twit @TravellersID, saya membaca sebuah artikel di Kompasiana, tentang seorang traveler baru-baru ini, yang mengunjungi Segara Anakan, Pulau Sempu, daerah Jawa Timur. Tadinya sih, dia pengen cerita tentang indahnya alam disana, wisata disana, eh..ternyata ada komen masuk, kalo Sempu itu termasuk cagar alam, yang seharusnya, enggak sembarang orang boleh masuk kesana. Contohnya: peneliti, itu boleh masuk, setelah mengajukan izin ke yang berwenang. Tapi ya itu tadi: seharusnya seperti itu. Tapi sekarang kok malah udah berubah, jadi cagar alam jadi tempat wisata. Entah siapa yang mencetuskan ide ini, dan memang, banyak juga yang memposting lingkungan disana, enaknya berkemah, menginap, berkunjung kesana.
responsible traveler bertanggung jawab not smart traveler
Secara Tidak Langsung Mengajak untuk Berkemah Di Sempu
Untung saja, yang membuat artikel tadi, menyadari kekhilafannya (karena mungkin dia sebelumnya memang enggak tahu kalo dilarang kesana). Traveler tersebut membuat revisi berupa artikel pernyataan dan himbauan, yang berjudul “Dilarang Berwisata ke Cagar Alam”. Sikap yang gentleman.

Nah, beranjak dari hal itu, saya ingin membahas tentang menjadi seorang traveler yang bertanggung jawab. Responsible Traveler kalo bahasa kerennya. Terus, bertanggung jawab sama siapa? Terutama ya sama lingkungan, alam, atau tempat yang dikunjungi, dan sama orang-orang atau penduduk di sekitar tempat yang dikunjungi atau status wisata yang direncanakan untuk dikunjungi.

Caranya gimana? Antara lain sebagai berikut:

Menjaga Kelestarian, Jangan Merusak Lingkungan
Ini nih, yang utama dan paling utama. Kalo kita mengunjungi suatu lokasi, alam maupun bangunan sejarah, misalnya, kita jaga lingkungannya, kelestariannya. Jangan melakukan hal-hal yang merusak bangunan itu sendiri (misal coret-coret dinding, sebagai “jejak” pernah kesana), atau merusak alam (misal: suka mematahkan atau menebang pohon buat mendirikan tenda).

Jaga Kebersihan Lingkungan
responsible traveler bertanggung jawab jaga kebersihan
Jaga Kebersihan (Foto:iyoskusuma via botakpetualang)
Sebenernya masih berkaitan dengan yang pertama. Jaga kebersihan lokasi yang kita datangi, entah ada petugas kebersihannya atau tidak. Usahakan bungkus dulu sampah yang kita hasilkan, dan buang di tempat sampah yang telah disediakan. Terlihat sepele, remeh, tapi ini penting banget kalo dilakukan setiap traveler. Bayangin kalo setiap pelancong punya pemikiran yang sama: “ah, ntar juga ada yang mbersihin sampah ini”. Iya kalo cuma satu yang mikir gitu? Kalo 10, 100, 1000? Jadi apa nanti? Full sampah.

Tahu Mana Lokasi yang Diizinkan dan Tidak
Nah, ini seperti kasus yang dijelasin di atas. Kalo emang itu cagar alam, dan seharusnya enggak boleh dimasuki wisatawan, ya biarkan seperti itu, dan kita, kalo emang traveler yang bertanggung jawab, harusnya malah mendukung, membuat program itu sukses, bukan malah menentangnya. Contohnya nih, orang yang memiliki anggapan seperti ini:
“Maaf bro, kalau menurut saya semua tempat di bumi ini memang diperuntukan untuk manusia. Jadi, sah-sah aja jika ada manusia berkunjung kesana”
Saya kira itu bukan sikap smart traveler.

Tahu Etika, Menghormati Budaya dan Hukum Setempat
Ini juga penting. Kita harus menghormati apa yang telah jadi adat-istiadat, jadi hukum di lokasi yang kita kunjungi. Misal: di Aceh, harus berpakaian tertutup (bagi cewek), ya kita ikuti, jangan malah cuek, pake tanktop, hotpants. Selain tidak menghormati, hal tersebut juga bisa membuat kita terkena masalah sama penduduk sekitar lho. Jadilah traveler yang ramah, sekedar senyum atau mengucapkan “permisi”, itu sudah baik, daripada nyelonong aja di tengah kerumunan warga.

Kalo lagi ada upacara adat juga hormati, jangan diganggu. Misal mau mengambil foto, tanyakan dulu, apakah boleh apa tidak, dan kalo boleh, cari sudut yang sekiranya tidak mengganggu upacara adat, atau ibadah di daerah tersebut.

Jangan Ngeyel kalo Ada yang Mengingatkan. Jika Mau Mengingatkan, Pakailah Bahasa yang Baik, Jangan Mencaci
Bagi yang mengingatkan: ketika ada traveler yang melakukan suatu kesalahan dalam perjalanannya, misal seperti contoh di atas, kita ingatkan dengan baik. Atau misal teman kita membuang sampah sembarangan, kita ingatkan juga dengan baik. Jangan malah langsung mencaci dan menggunakan kata-kata kotor dalam “mengoreksi” kekhilafan pejalan lain. Kita punya tanggung jawab yang sama dalam menjaga kelestarian wisata.

Bagi yang diingatkan: kalo kita memang salah, kita harus berbesar hati, legowo. Kita terima masukan dan saran yang disampaikan, jangan malah berbalik, ngeyel, dan sebagainya. Kalo ada traveler yang mencaci, padahal kita memang belum tahu kesalahan yang kita lakukan, kita sabar, kita tanyakan maksudnya, jangan balas mencaci. Tunjukkan sikap jantan kita.

Ikut Promosi Wisata, Promosi yang Bertanggungjawab 
responsible traveler bertanggung jawab salah promosi
Salah Satu Agen Travel yang Menawarkan Wisata ke Pulau Sempu, Padahal Lokasi Tersebut adalah Cagar Alam
Kalo mau mempromosikan wisata yang dikunjungi juga promosikanlah dengan baik, sampaikan hal-hal penting terkait tempat wisata tersebut, semisal ada larangan atau hukum adat yang ada di daerah tersebut. Jangan malah kampanye pariwisata hanya karena tempatnya indah dan menarik tanpa menyebutkan hal terkait yang tidak boleh dilakukan. Promosi yang bertanggungjawab.

Perhatikan Dampak di Masa Depan 
responsible traveler bertanggung jawab dampak lingkungan
Dampak Lingkungan akibat Tidak Menjadi Responsible Traveler (Foto:@NatGeopix)
Kita harus ingat dampak yang kita lakukan buat ke depannya. Jangan seenaknya, “yang penting aku udah kesana”. Perhatikan dampak lingkungan dan sosial yang kita hasilkan jika melakukan hal yang keliru. Seperti cagar alam tadi. Kalo malah terus dipromosikan sebagai tempat wisata, nanti ratusan, bahkan mungkin ribuan orang yang terus datang berkunjung, dan enggak semua orang bisa jadi traveler yang bertanggung jawab, akibatnya, cagar alam yang seharusnya sebagai tempat konservasi, malah hilang, atau rusak karena ulah tangan-tangan jahil.

Nah, udah tau kan, cara simple buat jadi traveler yang bertanggungjawab? Jadi smart traveler. Kita belajar bareng, saling mengingatkan, salaing mengoreksi, dan kampanyekan pada pelancong untuk jadi traveler yang bertanggung jawab. Responsible traveler.

Mari kita jaga indahnya alam dan budaya Indonesia.

You Might Also Like

0 comments

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)

Promo Tiket Pesawat

Member Of



Travel Blogs
best blogs