Old Style ala Keraton Surakarta Hadiningrat

12:00:00 PM

Hallo, Travelers..

Masih bareng Meanwhile U and Me dalam laporan perjalanan ke Solo-Karanganyar, Agustus kemarin. :D Traveling-nya sekali, malah sehari doang, tapi report-nya banyak yaa.. hehehe.. Emang kayak gitu sih biasanya, banyak yang bisa diceritakan sebenernya, dalam perjalanan wisata kita.

Kali ini saya ingin cerita perjalanan saya ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Siapa sih yang nggak kenal Keraton Surakarta? Banyak orang juga menyebut Keraton Surakarta sebagai Keraton Solo.
Keraton Surakarta Hadiningrat Kompleks Kedaton Bangsal Maligi
Keraton Surakarta Hadiningrat: Bangsal Maligi
Kaeraton Solo sendiri terletak di pusat kota Surakarta (Solo), Provinsi Jawa Tengah. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743 (Wikipedia). Keraton Solo sendiri berjarak sekitar 3,5 Km dari Pose In Hotel Solo, hotel yang saya tempati. Biasa, mengandalkan GPS, saya mencari arah Keraton Solo, dan saya sampai ke pintu masuk Keraton Surakarta, di lokasi yang sama dengan lokasi penempatan sementara pedagang Pasar Klewer yang belum lama terbakar. Saya sendiri sempat bingung masuk menuju lokasi utama Keraton Surakarta Hadiningrat akibat banyaknya loket masuk di sekitar Keraton, papan petunjuk pun kurang. Jurus andalan pun keluar: tanya orang. Hehehe

Setelah membayar Rp 10.000,00 di loket untuk wisatawan lokal, saya pun bertanya kesana kemari untuk masuk ke dalam Keraton Solo. Untung ibu-ibu pedagangnya baik-baik, mau nunjukin jalan ke dalam. Itulah inti dari sebuah lokasi wisata: keramah-tamahan tidak boleh dilepaskan, apalagi di Kota Solo yang terkenal sebagai kota budaya.
Keraton Surakarta Hadiningrat Tratag Siti Hinggil Lor Sasana Sewayana
Tratag Siti Hinggil Lor
Setelah keringat bercucuran, akhirnya saya sampai juga di pintu masuk utama museum Keraton Surakarta. Saya masuk via Tratag Siti Hinggil Lor yang disebut Sasana Sewayana (mencocokkan lokasi yang saya lewati dengan gambar di Wikipedia) lalu melewati Kori Kamendungan. Nah, untuk memasuki museum yang berada di dalam area keraton, diwajibkan memakai sepatu dan bercelana panjang. Bagi yang memakai sandal disarankan dilepas. lalu nyeker. Bagi yang bercelana pendek akan dipinjami sebuah kain yang dibelitkan dari pinggang hingga kaki. Tadinya saya ngira semua harus nyeker, tapi ternyata yang bersepatu boleh langsung dipake.

Saya kurang tau sejarah dari Keraton Surakarta, jadi saya mau cerita suasananya aja, ya. Hehehe.. 
Keraton Surakarta Hadiningrat Lingkungan dengan Pohon Sawo Kecik
Lingkungan sekitar Keraton Surakarta Hadiningrat (Klik untuk lebih jelas)
Di tengan-tengah museum, terhampar pelataran luas halaman Keraton Surakarta. Bersih, itu kata pertama yang terlintas melihat halaman keraton. Nggak keliatan sampah atau dedaunan berserakan walaupun pohon-pohon besar menjulang tinggi (belakangan saya tahu itu pohon sawo kecik dari sumber). Terlihat semacam sesajen di tengah halaman yang berpasir. Beberapa orang pun tampak tertarik mendengar penjelasan dari abdi dalem keraton. Dan beberapa orang pula, termasuk saya, nggak melewatkan kesempatan buat berfoto dengan background Bangsal Maligi yang ada di Kompleks Kedaton. Tapi, kompleks Kedaton sedang ditutup untuk pengunjung karena ada perbaikan.
Keraton Surakarta Hadiningrat berfoto di sekitar kompleks museum Bangsal Maligi
Banyak yang berfoto; yang lain mendengarkan penjelasan abdi dalem mengenai sejarah Keraton Surakarta
Keraton Surakarta Hadiningrat selfie di depan bangsal maligi
Selfie on the spot: Kompleks Kedaton
Nggak kehilangan akal karena bangunan utama ditutup, saya beralih ke ruang-ruang di sekitar Kompleks Kedaton. Beragam senjata, alat musik, maupun kereta kencana berjajar rapi di dalam ruangan, beserta beberapa keterangan mengenai koleksi di dalamnya. Namun, yang saya sayangkan adalah seakan pihak Keraton sendiri "tidak berniat" untuk membuka museum. Hal ini terlihat dari lampu temaram yang menemani setiap ruangan, plus beberapa koleksi yang dibiarkan rusak. Mungkin untuk menjaga keaslian atau apa, saya kurang tahu.
Keraton Surakarta Hadiningrat kereta kencana museum keraton
Kiri atas: "TKP" saya di-jutek-in, kanan atas: kereta kencana yang sudah rusak, bawah: siap perang!
Beberapa kejadian menarik yang saya temui di Museum Keraton Surakarta ini adalah:

1. Di-jutek-in abdi dalem
Ceritanya, di ruang kereta kencana, saya melihat ada rombongan keluarga yang sedang berfoto di depan kereta kencana, bahkan sang abdi dalem menawari bantuan untuk mengambil foto mereka. Niatnya sih, setelah mereka, saya juga mau foto di depan kereta kencana, walaupun memakai tripod (solo traveler, sih..). Eh, nggak tahu kenapa, saya nggak boleh foto disitu. :-( . Sakitnya tuh disini... (nunjuk mata)

2. Air segar di tengah kota
Buat menghibur hati, saya pun pindah ke lokasi lain. Masih di sekitar museum, ada pohon beringin yang cukup besar, dan ada sebuah bangunan di bawahnya. Ada petugas disitu yang ternyata di dalam bangunan ada semacam sumur. Pengunjung dipersilakan meminum air yang disediakan yang konon katanya "berkhasiat". Sempet ragu sih buat minum, takut rasanya gimanaaaa...gitu, tapi akhirnya langsung saya teguk dan saya langsung merasakan kesegaran alami. Padahal, Keraton Surakarta kan nggak di dataran tinggi, tapi airnya seger banget.
Keraton Surakarta Hadiningrat sumur air segar di museum keraton
Sumur dengan air segar asli
Lanjut berkeliling lagi ke ruangan yang lain, saya kok masih merasa "diperhatikan" sama abdi dalem yang tadi. Apa saya ada yang salah ya? Apa nggak boleh kalo jomblo traveler ngambil foto sendiri? :p Perasaan nggak ada rambu-rambu yang ngelarang, atau saya berlebihan dalam memotret.
Keraton Surakarta Hadiningrat pohon beringin
Selfie lagi di pohon beringin di tengah kompleks
Puas dengan gaya lama, old style ala Keraton Surakarta Hadiningrat, dan hari yang beranjak siang, saya pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan, karena di daftar saya, masih banyak lokasi yang harus saya kunjungi.
Keraton Surakarta Hadiningrat dalam perbaikan lukisan pemimpin keraton
Lokasi sekitar Museum Keraton Surakarta yang masih dalam perbaikan
Bingung di pintu keluar untuk menuju lokasi awal tempat saya memarkirkan sepeda motor kesayangan, saya pun kembali bertanya pada orang sekitar (tukang becak) dan ditunjukkan jalan keluar. Sampe di parkiran, eh..diingetin orang, ban belakang motor kempes. -_-' Emang ya, jadi solo traveler butuh perjuangan besar. Untung bukan kempes pes karena bocor.

Lelah, padahal baru ke Keraton Surakarta doang. Hahaha.. Apa kebanyakan makan ya, di hotel? :p
But show must go on, saya pun tancap gas menuju Karanganyar untuk ke Curug Jumog sesuai itinerary saya.
Keraton Surakarta Hadiningrat selfie zee zee shahab
Lelah nggak kerasa kalo ke Keratonnya bisa bareng Mbak Zee Zee Shahab :p (foto dari Instagram Zee Zee Shahab)
Yuk, kenali dan cintai budaya Indonesia, dan jalan-jalan yuk.. :D

Note: mohon koreksi ya, kalo ada yang salah di postingan saya. Plus baca juga postingan saya yang lain ya.. :)

You Might Also Like

11 comments

  1. itu sumur apa sumber mata air ya?
    klo sumur berati dalem sekali ya, apalagi keraton solonya di tengah kota...
    plus klo dilihat dr foto itu sepertinya panas sekali disana :)...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, kemarin emang lagi terik banget pas musim panas..

      kalo sumber airnya saya kurang tau nih, kemarin nggak sempet perhatiin hehehe

      Delete
  2. Replies
    1. Kalo karya seninya emang bagus banget nih, karya orang jaman dulu.. :D

      Delete
  3. loh loh kapan ini ke solonya, sampe karanganyar pula. ini wilayah saya haha..btw gak mampir nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe itu masih rangkaian yg kemarin Mas.. yg ke Solo juga hehe

      Nanti barangkali kesana lagi deh, blm puas kemarin.. :p

      Delete
  4. Saya punya kerabat yang tinggal di dekat masjid kasunanan Surakarta, cukup dekat dengan internal keraton, kabarnya tengah ada pergolakan pihak internal keraton terkait kepercayaan antara budaya Islam dan Jawa... Tapi entahlah, perlu riset lebih lanjut soal ini. Di luar itu, bangunannya tetap menarik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentang kesesuaian Islam sama budaya Jawa gitu maksudnya ya?

      Menurutku emg ada bbrp yg kurang pas sih kalo budaya Jawa dan Islam digabung gitu..

      Boleh tu dijadiin skripsi :p

      Yapp walaupun sayang ada bbrp spot yang kurang terawat

      Delete
  5. kayaknya serem ya keraton nya hiiiiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe emang masih kerasa banget suasana mistiknya disana, apalagi nyoba kesana menjelang sore.. Hiiii :P

      Delete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)

Promo Tiket Pesawat

Member Of



Travel Blogs
best blogs