Hujan Deras di Curug Muncar bikin Lensa Berjamur

7:00:00 AM Dimas A. R. Kambuna 0 Comments

Welcome 2017, welcome rainy days.

Yak, kita seakan disambut oleh musim hujan lebat saat memasuki tahun 2017 ini. Walaupun emang kayaknya kemarin-kemarin "nggak ada" yang namanya musim kemarau di tahun 2016. Ngomongin musim ujan, saya jadi keinget perjalanan saya berpetualang ke Petungkriyono, melanjutkan perjalanan saya dari Curug Bajing. Tujuan saya selanjutnya adalah Curug Muncar yang terletak beberapa kilometer dari Curug Bajing.
Curug Muncar, Hujan Derasnya bikin Lensa Berjamur
Curug Muncar, Hujan Derasnya bikin Lensa Berjamur :(
Ceritanya setelah hujan udah lumayan reda, dan kami udah sholat di Mushola di sekitar Curug Bajing, kami pun mempersiapkan diri menuju ke destinasi berikutnya, yaitu Curug Muncar. Untuk menuju Curug Muncar ini, kita perlu masuk lebih dalam lagi ke "hutan" Petungkriyono yang kayak Hutan Avatar (walaupun udah ada jalannya sih). Jalannya ekstrim banget, ada tikungan letter L yang diikuti dengan turunan curam sekitar 30 derajat, mana jalannya kecil lagi. Kami bersyukur waktu itu kami menggunakan motor, bukan mobil, karena diperlukan keahlian khusus untuk melewatinya. Saya menjumpai pengendara motor yang terjatuh (padahal pake motor gede/motor sport) saat berangkat dan mobil berisi ibu-ibu yang harus mundur lagi di tanjakan saat perjalanan pulang. Hampir saja saya "kunduran" mobil. Tau "kunduran"? :p
Curug Pandang, Petungkriyono
Curug Pandang, Petungkriyono
Hutan ala "Avatar" terbentang di Petungkriyono Curug Muncar
Hutan ala "Avatar" terbentang di Petungkriyono
Jalur "pendakian" menuju Curug Muncar Petungkriyono
Jalur "pendakian" menuju Curug Muncar
Pintu masuk Curug Muncar agak sedikit berbeda dibandingkan Curug Bajing. Kita memasuki wilayah perkampungan warga dan parkir di salah satu pekarangan warga yang cukup luas. Namun kembali, yang patut saya acungi jempol dari Petungkriyono, parkir dan tiket wisata disini sudah dikelola dengan cukup baik dan tidak "mencekik" pengunjung.
Perbedaan kedua dibanding Curug Bajing adalah sebenarnya kita tidak hanya menjumpai Curug Muncar di lokasi ini, ada sekitar 8 curug yang dapat kita jumpai disini. Makanya Petungkriyono disebut Negeri Sejuta Curug. Namun, yang cukup terkenal adalah Curug Muncar. Dan untuk menuju kesana pun ternyata cukup menantang. Awalnya kita disuguhi "jalan wisata: dengan tangga semen dan pengaman di kanan-kiri jalan. Nah, tapi untuk menuju Curug Muncar, kita perlu keluar dari jalur tersebut dan menyusuri jalan setapak dan saluran irigasi di tengah pegunungan. Kabut sudah mulai turun pada saat itu, padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 siang.
Curug Muncar selfie Petungkriyono
Selfie sana-sini: Mas, pinjem Mbaknya buat selfie boleh? :P
Berjalan kaki di lingkungan yang sepi, becek, dan diapit jurang yang cukup curam perlu perjuangan keras agak tidak terpeleset. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit (sambil beberapa kali selfie), akhirnya kami pun sampai di Curug Muncar. Ada beberapa cabang menuju curug lainnya yangkami temui di perjalanan dan kadang agak bingung juga untuk mencapai Curug Muncar akibat tanda arah yang kurang memadai. Namun setelah mencoba sana-sini, ditambah menyeberangi sungai kecil, kami sampai juga disana. Tidak ada orang saat kami sampai disana, sama dengan waktu saya ke Curug Bajing.
Sungai kecil yang dilewati menuju Curug Muncar Petungkriyono
Sungai kecil yang dilewati menuju Curug Muncar
Jalan menuju Curug dengan beberapa pilihan Curug papan penanda curug muncar
Jalan menuju Curug dengan beberapa pilihan Curug
Aliran air yang cukup deras, kabut yang mulai turun, bulir air yang berterbangan, ditambah udara sejuk khas pegunungan udah cukup bikin saya menggigil kedinginan. Tapi, ah masak udah ke curug tapi mau diem-dieman aja, mau diliatin doang. Mumpung kesini, udah jauh-jauh juga akhirnya saya mempersiapkan diri untuk menembus dingin menuju bawah curug (tetap hati-hati ya kalo yang mau ikutan). Dangkalnya air di bawah curug memudahkan kami untuk mengeksplorasi dan ber-selfie ria di bawah Curug Muncar. Tapi yang berani naik kayak kami kayaknya nggak banyak deh. :p
lompat di bawah curug muncar
Lompaaaaatttt
Kedinginan di Curug Muncar Petungkriyono part 1
Kedinginan part 1 (sampai ganti yang megang kamera)
Kedinginan di Curug Muncar Petungkriyono part 2
Kedinginan part 2 (beneran, dingin!)
Beberapa kali tangan menggigil untuk mengambil foto, akhirnya saya menyerahkan kamera ke teman saya sewaktu selfie. Seiring waktu, ada beberapa pengunjung wanita beserta teman lelakinya ikut ber-foto di bawah air terjun. Nyampe sebentar > selfie dari jauh > ngeliat kami foto di bawah air terjun > mupeng > ceweknya lepas-lepas > foto juga deh. :D Eh tapi bukan lepas baju lho ya, tapi lepas kerudung (duh kok kayak pintu mall sih Mbak, yang suka buka-nutup gitu? Sayang deh)
pengunjung di Curug Muncar Petungkriyono
Pengunjung di Curug Muncar: "Sayang Mbak, jilbabnya kayak pintu mall" :(
Hampir satu jam kami di Curug Muncar, sambil berlatih mengambil foto long exposure (sayang nggak punya filter, jadi hasilnya kurang maksimal). Tapi mendung yang menggelayut ditambah kabut yang semakin tebal membuat kami memutuskan untuk balik ke depan.

Benar saja, di tengah perjalanan, hujan turun lebat banget, sampai kami susah nyari tempat berteduh dan buru-buru mengamankan tas dan kamera. Sayangnya tas kamera pun basah dan lensa berembun (tidaaaaaaakkkk - akhirnya jadi aja jamur lensa beberapa bulan setelah dari curug, padahal sampai di rumah udah langsung saya keringin dan dimasukin kotak yang ada silica gelnya).
Belajar Long Exposure di Curug Muncar
Belajar Long Exposure di Curug Muncar
Curug Muncar Petungkriyono Lompat Terjun
Lompat nggak ya, terjun nggak ya?
Long Exposure Curug Muncar Petungkriyono part 1
Aliran "Lambat": Kurang halus airnya, nggak punya filter :(
Long Exposure Curug Muncar Petungkriyono part 2
Long Exposure jilid 2
Hujannya lebat, perut keroncongan pulak. Mau ke warung, masih basah kuyup. Akhirnya kami berteduh di musholla dekat pintu masuk bareng Emak-emak rempong yang kami jumpai saat mau pulang dari Curug Bajing. Pas temen nawarin Nabati Sipp, langsung comot deh, berasa enak banget. Malah saya yang ngabisin. >.< Laper banget sih, tapi di Curug Muncar ini belum banyak penjual kayak di Curug Bajing, jadi karena hujan yang nggak reda-reda (dikit doang redanya), setelah sholat pun kami memutuskan untuk tancap gas pulang ke rumah. Sempet sayang sih, jauh-jauh ke Petungkriyono cuma dapet dua curug utama. Tapi mau gimana lagi, cuacanya lagi kurang mendukung. Pas pulang, kebelet pipis saking dinginnya, untung banyak curug kecil, "nggesruk" aja disitu ahahahaha..
kabut tebal dan hujan deras curug muncar bikin lensa kamera berjamur
Kabut tebal dan hujan deras ini juga yang bikin kamera basah, akhirnya berjamur >.<
Tapi, perjuangan keras ke Curug Muncar ini seru kok, seru banget malah. Menggigil bareng, laper bareng, takut jatoh bareng. Ahahahaa..

Nah buat kalian yang belum ke Petungkriyono, rencanain aja deh kesini, tapi nunggu musim hujan agak berkurang, ya. Mungkin di bulan Maret atau April. Apalagi Petungkriyono juga semakin berbenah, soalnya promosi wisata disini juga lagi digembor-gemborkan.

Yuk, kita jalan-jalan lagi.
See you next time, caoooo...

menembus dinginnya air terjun di curug muncar
Perjuangan menembus dinginnya air (liat aja ekspresinya :p)
pose di bawah air terjun curug muncar petungkriyono
Yuhuuuuu.. Aweweeee, come here....!
Curug lupa namanya di curug muncar
Curug lupa namanya ahahaha..
Bonus: :D :p Ahahahaa...

You Might Also Like

0 comments:

Komentar itu bisa memberi inspirasi lho.. Siapa yang mau memberi inspirasi ke blog ini? :)